Home » Mengulik Sejarah dan Filosofi Sate Lilit, Kuliner Nikmat Khas Bali

Mengulik Sejarah dan Filosofi Sate Lilit, Kuliner Nikmat Khas Bali

by Anjar

OTOBIKES – Sate lilit tentu sudah tidak asing bagi Sobat Otobikes. Kuliner ini merupakan panganan andalan yang sering diburu turis saaat mengunjungi Pulau Dewata.

Istilah lilit dalam bahasa Bali dan bahasa Indonesia bermakna ‘membungkus’ seperti bentuk sate lilit yang memang dililitkan pada tusuk yang tebal serta lebar.

Baca Juga: 5 Perlengkapan Wajib Saat Bermain Motor Trail di Medan Off-Road

Sate lilit sendiri awalnya berasal dari Klungkung, kota sekitar 30 km arah timur Denpasar. Namun demikian kini keberadaannya tentu sudah tersebar di seluruh daerah Bali terlebih yang banyak dikunjungi wisatawan.

Awalnya sate lilit hanya dibuat dari daging babi dan ikan. Hal ini karena mayoritas penduduk Pulau Bali memeluk agama Hindu. Namun, kini sate lilit bisa dibuat dari daging sapi, ayam atau bahkan kura-kura yang dicincang. Hal ini dilakuan untuk memenuhi permintaan wisatawan terutama yang tidak makan daging babi.

Diusut lebih lanjut, sate lilit ternyata merupakan salah satu makanan yang ada di dalam sesaji umat Hindu Bali saat melakukan upacara adat. Salah satunya adalah pada upacara adat Caru yang bertujuan untuk menjaga keseimbangan alam semesta serta sebagai bentuk penghormatan dan penghargaan kepada dewa-dewa umat Hindu di Bali.

Baca Juga: Rekomendasi Warung Tongseng Kambing untuk Para Bikers, Suka Kepala, Jeroan atau Daging?

Dalam sesaji dihidangkan sate lilit dalam jumlah ganjil. Umumnya sate lilit dihidangkan sebanyak 3 atau 5 tusuk.
Sate lilit ini kemudian diikat menjadi satu dan diletakkan di anatara lawar yang merupakan simbol mata angin. Setiap arah mata angin dijaga oleh dewa-dewa. Ada 4 jenis lawar yaitu yaitu lawar hitam, putih, merah dan hijau.

Pada upacara besar, sate lilit dibuat di balai desa dan dikerjakan oleh 50-100 orang pria. Semua pekerjaan, mulai dari menyembelih hewan, meracik adonan, melilit daging hingga memasak dilakukan oleh pria.

Baca Juga: 7 Wisata Pegunungan yang Cocok untuk Sobat Otobikes

Terakhir, untuk diketahu ternyata sate ini juga merupakan lambang kejantanan pria. Di masa lalu, orang akan mempertanyakan kejantanan seorang laki-laki jika tidak bisa membuat sate lilit.

Berita Terkait

Leave a Comment

* By using this form you agree with the storage and handling of your data by this website.